Weka Online -- SMK Wikarya Karanganyar Surakarta

Sejarah SMK Wikarya

SMK Wikarya adalah sekolah menengah kejuruan ekonomi swasta yang tertua di Karanganyar.

Wikarya-lah yang mempelopori dibukanya sekolah-sekolah kejuruan swasta sejenis, yang kini cukup banyak Anda lihat di wilayah yang sama.

Semua ini berawal dari keuletan sejumlah kecil 'anak muda' (usia mereka antara 20-an dan 30-an) yang sebagian di antaranya masih menjadi anggota-anggota staf pengajar SMK Wikarya sekarang.

Ketika itu, tahun 1972, hanya ada satu Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Kabupaten Karanganyar; sekolah yang kini menjadi SMK Negeri 1 Karanganyar. Belum ada satu pun SMEA swasta. Sementara itu, kelihatannya jumlah lulusan SMP yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke SMEA cukup banyak, sebagaimana bisa disaksikan setiap tahun pada saat pendaftaran SMEAN Karanganyar dibuka.

Diilhami kenyataan tersebut, beberapa orang guru SMEAN memutuskan untuk membuka sekolah swasta bersama-sama, untuk menampung sebagian siswa yang tak lolos ke SMEAN. Sekolah yang baru itu diberi nama SMEA Wikarya.

Para guru muda yang mendirikan sekolah ini adalah Dra. Noel Susenowati (berusia 26 tahun pada waktu itu, menjabat sebagai Kepala Sekolah sementara pada waktu sekolah itu resmi dibuka), Soekamto, BA (32 tahun, memegang jabatan sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum), dan Drs. Suprapto (29 tahun, sebagai bendahara sekolah).

Beberapa orang guru lain segera bergabung, yakni Bp. Widarso Hs., BA, Bp. Sukabmo, BA, Bp. Riri Sunaryo, BA, Bp. H. Abdullah MZ., S.Pd, dan Bp. Suhanto, BA, SH. Semuanya masih aktif mengajar di SMK Wikarya 20 tahun kemudian. Sementara Bp. Simin dan Bp. Sunaka telah meninggal beberapa tahun silam.

 

Noel Susenowati dan Suhanto, 1980

Ibu Dra. Noel Susenowati dan Bp. Suhanto, BA, SH
pada tahun 1980.

 

Kepala Sekolah SMK Wikarya setelah Ibu Noel Susenowati adalah almarhum Bp. Sutoso, Bc.Hk, disusul oleh almarhum Bp. Ignatius Suyatno, sebelum akhirnya jabatan tersebut dipegang oleh Bp. Suhanto hingga sekarang.

Menjelang 1980-an, sekolah yang hanya memiliki 3 kelas, masuk siang, menumpang di gedung SMEAN Karanganyar itu mengalami masa sulit.

Sejak awal para guru yang mengabdikan diri di sana hanya memikirkan masalah proses belajar-mengajar yang harus tetap berjalan meskipun gaji para guru tidak teratur dan besarnya pun tak berarti ("Awaké dhéwé ora digaji ya ora apa-apa; sing penting murid-murid têtêp mlêbu (Seandainya kita tidak digaji pun tidak apa-apa; yang penting para siswa tetap bisa masuk sekolah)," tegas Bp. Widarso Hs. kepada rekan-rekannya waktu itu).

Hanya mengandalkan iuran bulanan dari para siswa, para guru ini lebih mementingkan idealisme mereka ketimbang kesejahteraan material -- itulah masa 'SPP tidak tetap'; mereka tidak ingin memberatkan para siswa yang kesulitan membayar SPP.

Kini mereka mengalami ujian terberat, yakni penyelewengan dana yang dilakukan oleh salah seorang pendirinya, yang mengakibatkan kondisi keuangan sekolah benar-benar kritis. Sekolah tersebut terancam gulung tikar, karena tanpa dana yang hilang itu tidak mungkin manajemen sekolah dapat dilaksanakan.

Para guru masih tetap optimis, namun mereka juga bersiap-siap menghadapi kemungkinan ambruknya SMEA ini dengan merencanakan untuk meniadakan penerimaan murid baru dan berkonsentrasi pada pelulusan sisa murid yang ada di kelas 2 dan 3.

Kesulitan itu dapat dilalui dengan terbukanya jalur untuk bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Ekonomi yang berkantor pusat di Semarang, pada paruh pertama 1980-an. Adalah Bp. Suhanto yang mati-matian memperjuangkan jalan keluar, hingga akhirnya beliau memperoleh solusi tersebut dan menyelamatkan SMEA Wikarya.

 

Ibu Noel Susenowati dan Bp. Suhanto

Ibu Dra. Noel Susenowati dan Bp. Suhanto, BA, SH
saat membangun kembali SMK Wikarya pada 1988.

 

Namun masalahnya belum selesai. Kini para guru SMEA Wikarya harus berjuang mencari siswa baru ketika proses pendaftaran dibuka kembali.

Pada 'zaman perjuangan' inilah dedikasi para guru kembali teruji; Bp. Suhanto, Bp. Marsudi, dan Bp. Sugeng Kristiyono berkeliling Karanganyar dari pagi hingga petang, sampai jauh ke desa-desa, menawarkan pendidikan di SMEA Wikarya kepada warga Karanganyar. Mereka juga membuat sendiri spanduk-spanduk ala kadarnya, dan memasangnya sendiri di antara pohon-pohon dan tiang-tiang listrik di pelosok kabupaten ini.

Ibu Noel Susenowati dan para guru lainnya yang tidak mau meninggalkan Wikarya meskipun dalam kondisi sulit itu tanpa henti menyebarluaskan informasi mengenai Wikarya kepada para orangtua calon-calon siswa, sembari memperbaiki mutu pendidikan yang ditawarkan.

Tak mudah melakukan 'kampanye' tentang citra SMEA Wikarya ini. Pada dekade 1980-an, citra sekolah menengah kejuruan sangat kurang menarik; orangtua maupun para calon siswa merasa pendidikan menengah kejuruan kalah pamor dibanding SMA. Lebih-lebih sekolah kejuruan swasta. Meski begitu, para pengajar SMEA Wikarya tidak minder; mereka berusaha menyadarkan masyarakat mengenai keunggulan-keunggulan bersekolah kejuruan ekonomi (lihat tulisan Bp. Suhanto, BA, SH).

 

Perkenalan siswa baru 1992

Ibu Dra. Noel Susenowati (berdiri di sebelah meja),
Ibu Sri Hartanti, Ibu Dra. Endah D.A., serta Ibu Sarwati
(duduk), dalam acara perkenalan dengan siswa baru 1992.

 

Tekad mereka untuk tidak menyerah akhirnya mulai menampakkan buah yang cukup menggembirakan pada akhir dekade 1980-an.

 

Menunggu Kantor Kepala Sekolah selesai dibangun, 1995.

 

Sejak itu, SMEA Wikarya terus berkembang, hingga dapat memiliki gedung sendiri di atas tanah seluas 5000 meter persegi, dan memekarkan kelas-kelas sampai 21 buah.

Bahkan pada tahun diklat 2005/2006 SMK Wikarya terpaksa harus menolak lebih dari 100 orang calon siswa baru karena tidak ada tempat lagi (dan tidak memperoleh izin untuk menambahkan kelas baru).

 

Kepala Sekolah saat ini, Suhanto, BA, SH (kiri) berbincang dengan Ketua Program Akuntansi dan anggota staf pengajar senior SMK Wikarya, Widarso Hs., BA.

Pada saat SMK (waktu itu SMEA) Wikarya baru saja berdiri di pertengahan dasawarsa 1970-an, Pak Widarso telah menunjukkan komitmennya untuk terus mengajar meskipun pada waktu itu kondisi keuangan sekolah 'byar-pet' dan tak mampu menawarkan insentif yang memadai kepada para guru. Kedua pengajar senior ini telah melewati tahun-tahun yang serba sulit bersama-sama.

Ketika berdiri, Wikarya belum memiliki gedung sendiri, dan harus 'membonceng' SMEA Negeri 1 sehingga para siswa masuk siang hari. Hanya ada 3 (tiga) kelas saja sebagai awal sejarah sekolah ini yang sekarang memiliki hampir seribu orang siswa, 21 (dua puluh satu) kelas, dan gedung berlantai dua.

 

H. Abdullah Mudzakir, S. Pd. (kiri), perwakilan Yayasan Pendidikan Ekonomi (berpusat di Semarang) yang memayungi SMK Wikarya, berpose bersama Kepala Sekolah Suhanto, BA, SH, dan para siswa yang berhasil membawa pulang tambahan untuk 'koleksi' prestasi sekolah ini.

 

Abdullah MZ

Bp. Abdullah MZ sama sekali
bukan 'orang luar' bagi SMK Wikarya.
Beliau telah mengabdi sejak 'zaman perjuangan',
pertengahan 1970-an.

 

Berbekal pengalaman menghadapi dan mengatasi masa-masa sulit dalam sejarahnya, para pengajar dan karyawan SMK Wikarya kini tak henti mendorong para siswa agar pantang menyerah dalam mencapai apa yang mereka cita-citakan.

Tentu saja kami menyadari bahwa idealisme semata tidaklah cukup -- namun bila kami bicara tentang apa yang ideal, nilai penting optimisme, keuletan, dan kemandirian, semua itu bersumber dari pengalaman nyata. Adalah harapan kami agar para pengajar yang lebih muda serta para siswa di masa depan pun terus menjunjung nilai-nilai yang sama, bahkan meningkatkan segenap pencapaian yang telah ada saat ini. Insyaallah semua itu akan membuahkan hasil-hasil yang menggembirakan.